Minggu, 24 Maret 2013

Teori Heliosentris Versi Fisikawan Muslim dan Fisikawan Non-Muslim


Teori Heliosentris Versi Fisikawan Muslim
Al-Sijzi (945-1020 M)
Al-Sijzi dengan nama lengkap Abu Said Ahmad bin Muhammad bin Abd Al-Jalil Al-Sijzi merupakan seorang ilmuwan yang ahli di bidang astronomi dan matematika. Dia dilahirkan pada tahun 945 di Sijistan, Persia. Dia merupakan ilmuwan yang dikenal dekat dengan Al-Biruni yang juga ahli astronomi dan matematika.
Pengamatan astronomi Al-Sijzi membuahkan teori Heliosentris yang menggemparkan dunia pada masa itu. Pemikiran Al-Sijzi mengenai sistem heliosentris dapat dilihat dari karya-karya Al-Biruni yang sering bertukar pikiran dengannya. Dalam karya Al-Biruni yang berjudul Isti'ab Al-Wujuh Al-Mumkina fi San'at Al-Usturlab yang berisi tentang astronomi dan astrolabe, Al-Biruni mengatakan, dia telah melihat astrolabe yang ditemukan Abu Sa'id Al-Sijzi. Astrolabe ini sangat disukainya karena benda tersebut memiliki beberapa efek sehingga pergerakan disaksikan disebabkan oleh bumi, bukan langit.

Ibnu Al-Shatir (1304-1375 M)
Nama lengkapnya Ala Al-Din Abul Hasan Ali Ibn Ibrahim Ibn Al-Shatir seorang astronom muslim dari kota Damaskus. Karya-karyanya Kitab Nihayat al sul fi tashih al usul (The Final Quest Concerning the Rectification of Principles), Al-Ashi’a al-lami’a fil ‘amal bil ‘alal jami’a (Rays of light on operations with the universal instrument) yang berisi tentang penjelasan berbagai alat astronomi yang di buatnya.
Selain hebat dalam berteori dan mengembangkan analisa, kehebatan Ibnu Al Shatir dalam membuat peralatan astronomi juga tidak diragukan. Ini terbukti kemampuannya membuat jam astrolabe pada awal abad ke-14 dan ia juga berhasil membuat kompas tangan yang sangat membantu dalam alat pedoman arah dan  waktu lainnya seperti sundial umum dan kompas magnet.  Ibnu Al Shatir menyumbangkan jasa yang luar biasa besarnya karena pemikiran dan ide-ide astronominya sangat berpengaruh pada revolusi astronomi yang dicetuskan oleh Copernicus.

Teori Heliosentris Versi Fisikawan Non-Muslim    
Nicolas Copernicus (1473-1543 M)
Lahir di kota Thorn, Polandia pada tanggal 19 Februari 1473. Nama aslinya adalah Mikolaj Kopernik. Karyanya yaitu Little Commentary dan De Revolutionibus Orbium Coelestium, yang menyatakan bahwa bumi berotasi (berputar pada porosnya) dan berevolusi (bergerak mengitari matahari selama setahun) dengan orbit berbentuk lingkaran dan matahari adalah pusat alam semesta dan semua benda langit bergerak mengelilinginya. Namun penyebaran karyanya ditentang keras oleh sebagian besar masyarakat umum dan tokoh-tokoh gereja, karena bertentangan dengan kitab injil dan pemahaman masyarakat tentang alam semesta. Pertentangan ini terus berlanjut hingga Copernicus meninggal pada tanggal 24 Mei 1543 M di kota Fraunberg.

Galileo Galilei (1546-1642 M)
Seorang ilmuan terkenal dan terpandang, lahir pada tanggal 15 Februari 1564 M  di kota Pisa, Italia. Karya-karyanya The Little Balance(La balancitta), Letters on the Sunspot, The Assayer, The Dialogue Concerning the Two Chief System of the World Ptolemic and Copernican, De Motu (uraian tentang hukum gerak), The Starry Messenger (Sidereus Nuncius), dan memodifikasi teleskop yang telah ada sehingga menjadi jauh lebih canggih dan memiliki daya jangkau yang berlipat-lipat dari sebelumnya.
Dengan bantuan teleskop ia terus melakukan penelitian terhadap benda-benda langit dan alam semesta. Seperti meneliti pergerakan planet Venus sehingga mengetahui bahwa fase pergerakannya sama dengan bulan mengitari bumi inilah yang merupakan bukti kebenaran teori heliosentris.

Johannes keppler (1571-1630 M)
Kepler seorang berkebangsaan Jerman, ia selalu mengadakan penelitian benda-benda langit. Ia memperluas dan menyempurnakan ajaran Copernicus. Teori-teori yang dikemukakan dilandasi Matematika yang kuat. Ia berhasil menjadikan hukum Universal tentang kinematika planet yang menjadi landasan dalam ilmu astronomi. Tiga hukum itu adalah:
1. Lintasan planet menyerupai elips dengan matahari pada salah satu titik apinya
2. Garis hubung planet matahari akan menyapu daerah yang sama luasnya dalam selang waktu yang sama panjangnya
3. Pangkat dua kala edar planet sebanding dengan pangkat tiga jarak planet ke matahari.

Walaupun Teori Heliosentris ini banyak dikemukakan para ilmuan terkemuka, tapi belum tentu teori inilah yang paling unggul dibandingkan Teori Geosentris karena Alquran memandang bahwa Teori Heliosentris dan Teori Heliosentris memiliki kebenaran yang sama dan sifatnya relatif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar