Jumat, 11 Januari 2013

Mahasiswa, Sosok Sentral dalam Masyarakat

MAHASISWA, adalah sosok yang terpandang intelek di mata masyarakat. Kaum terpelajar dari berbagai golongan ini memang memiliki kredibilitas yang tinggi sebagai generasi penerus bangsa atau biasa dengan sapaan “Agent of Change”. Melalui kemampuan yang dimilikinya memang seorang mahasiswa diharapkan untuk mengubah arah masa depan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Dengan pemikirannya yang kritis, mahasiswa memang memiliki kemampuan analisis yang tinggi. Terbukti dengan gantungan harapan yang ada di pundaknya, banyak kalangan yang menggunakan jasanya baik itu dalam pendidikan (semisal jadi guru), di bidang masyarakat (pemberi pengabdian tanpa tanda jasa), maupun dalam hal teknologi dan sains (lewat penelitian inovatif yang dikembangkan.
Fase mahasiswa menjadi fase yang sangat vital karena dianggap sebagai fase kritis. Maksud fase kritis disini, segala langkah yang akan menentukan kemajuan bangsa ini ada dan berkembang di fase mahasiswa ini. Biasanya dalam fase ini mulai lahir idealisme-idealisme agung yang terkadang arah pikirannya tidak dapat ditebak orang-orang awam. Sebagai contoh, Andre Hirata, yang notabene merupakan orang kampong dari Belitong, pemimpi kelas dunia yang bermimpi kuliah di Prancis dan mengubah system perekonomian di Indonesia. Secara nalar memang sulit untuk dipercaya, tapi dengan usahanya yang gigih, beliau berhasil membuktikan bahwa dirinya bisa mengejar impian-impiannya.  Dlaam fase ini juga mahasiswa sering mengalami perkembangan pola piker yang baik karena banyak cambuk yang menjadi lecutan semangat mereka untuk mempertahankan dan meraih idealismenya. Masa depan, itulah orang banyak harapkan dari mahasiswa-mahasiswa yang duduk di bangku perkuliahan ini.
Kurang afdol rasanya bila kuliah tidak dibarengi dengan organisasi, karena akan banyak hal yang didapatkannya dalam berorganisasi. Dinamika organisasi banyak mengajarkan kepada sosok muda ini untuk terus mengembangkan pola pikirnya agar memiliki arahan yang baik untuk merubah dirinya, menentukan masa depannya, dan masa depan bangsa ini tentunya. Namun, itu semua dikembalikan ke pribadi mahasiswa itu sendiri juga. Ada yang aktif di organisasi kampus atau luar kampus hanya untuk memampangkan mukanya saja, ada yang setengah-setengah, dan ada yang full mendedikasikan pengabdiannya untuk organisasi tersebut. “Apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen”, kalimat itu cocok untuk untuk emnggambarkan kinerja seseorang dalam hidupnya, khususnya untuk mahasiswa dalam organisasinya. Kesungguhan, keikhlasan, dan loyalitas yang tinggi terhadap organisasi secara langsung atau tidak langsung akan terus-menerus mengembangkan kemampuan kritisnya, analisisnya, sosialnya, edukatifnya, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, hal itu memang seyogyanya ditanamkan dalam setiap pribadi-pribadi calon perubah peradaban ini.
Selain memandang kehidupan mahasiswa dalam perkuliahan dan organisasi, mari kita tinjau kehidupan mahasiswa sehari-harinya.
Kesederhanaan adalah hal mutlak yang harus dijiwai dan diaplikasikan dalam diri mahasiswa. Ada sebuah lagu yang menyatakan tentang pola makan mahasiswa yang tidak teratur. Hari ini makan, besoknya puasa, besoknya lagi ngutang, sampai ujung-ujungnya kelaparan lagi. Ya, memang terlihat naas, tapi itulah kehidupan mahasiswa. Sederhana yang kadang-kadang penuh kekurangan. Dari kesederhanaan inilah banyak pelajaran penting yang tidak akan didapatkan di bangku kuliah atau di samudra organisasi. Kalau kata orang sunda itu sifat “merih”. Sifat “merih” ini pada akhirnya akan menuntun mahasiswa untuk menuju pemikiran yang lebih matang.
Selain itu, hubungan vertical dengan Tuhan juga harus baik karena tanpa Tuhan tidak mungkin cecunguk-cengunguk ini bisa berdiri ajeg di kampus. Banyak mahasiswa yang sering melaksanakan sunnah rasul semacam puasa senin kamis, salat dhuha, shalat tahajjud, dan lain sebagainya. Hal ini sebenarnya yang menjadi modal mahasiswa untuk berkarya. Karena dengan kedekatan denga Tuhan, pikirannya akan dijernihkan untuk menyerap segala macam ilmu kehidupan. Kehidupan mahasiswa pun akan dipenuhi dengan petualangan-petualangan, apapun itu, karena sejatinya mahasiswa akan memiliki banyak teman yang berbeda pikiran dari berbagai macam adat yang berbeda dengan pemikiran yang berbeda pula. Canda, tawa, duka, dan segala macam asam garam kehidupan masa muda akan dirasakan di fase ini. Pemilihan teman bergaul yang baik adalah hal penting untuk menentukan keseruan petualangan yang dihadapinya. Mengapa penting? Karena dari teman-temannya lah mahasiswa akan banyak berinteraksi dan bertukar pikiran. Cekokan dosen terkadang tidak lebih berharga daripada celotehan seorang teman. Oleh karenanya, pintar-pintarlah memilih teman bergaul agar masih berada di jalur yang baik sebagai seorang mahasiswa.
Apa yang menjadi “goal” dari seorang mahasiswa? Secara umum banyak kalangan menyondongkan kesuksesan. Kesuksesan yang seperti apa? Kesuksesan itu luas cakupannya. Melalui pengerucutan, ada beberapa macam kesuksesan yang setidaknya menjadi harga mati yang harus dicapai oleh mahasiswa. Yang pertama ialah membahagiakan orang tua. Hal ini dicita-citakan setiap orang. Namun sebagai kaum terpelajar, sudah selayaknya mahasiswa membahagiakan orang tuanya ini melalui prestasi-prestasi. Bukan hanya prestasi akademik saja, tapi semua prestasi yang membuat asa orang tua membuncah tinggi di angkasa. Berikutnya adalah bermanfaat di masyarakat. Percuma merantau jauh-jauh ke daerah orang kalau akhirnya hanya menjadi sampah masyarakat. Masyarakat sejatinya membutuhkan hasil racikan kampus berupa mahasiswa ini untuk membantu mereka bergerak kea rah yang lebih baik, berkembang, dan membumikan daerahnya dengan keunggulan. Cakupan yang lebih besar dari masyarakat yaitu bangsa ini. Sudah banyak judgement bahwa bangsa ini merupakan bangsa yang tertinggal, tertinggal sekali dari bangsa-bangsa lain. Disinilah peranan mahasiswa sebagai “Agent of Change” itu diperlukan, membawa bangsa ini menjadi bangsa yang bisa menancapkan bendera kemenangan di dunia. Apalah yang akan dibanggakan, sains kah, ekonomi kah, atau apapun itu, yang jelas harus ada keinginan untuk hal besar ini. Karena kalau bukan mahasiswa sebagai kaum muda, siapa lagi yang akan membuat nama bangsa ini harum di mata dunia. Apapun “goal” yang hendak dicapai, semoga bangsa ini bisa bangkit menjadi bangsa yang kuat menghadapi kerasnya kehidupan dunia.
“Sesungguhnya landasan perjuangan adalah tekad yang membaja, landasan pergerakan adalah jiwa yang menggelora, dan landasan semangat adalah nurani yang menyala. Izinkanlah mengawali persahabatan dengan satu salam kebanggaan, HIDUP MAHASISWA!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar